Larangan Menggauli Istri Pada Duburnya(melakukan anal sex)

Yang Mulia Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: Apa hukum menggauli istri pada dubur, adakah kafarah bagi orang yang melakukan hal itu?

Jawaban:

Menggauli istri pada dubur termasuk dosa besar dan kemaksiatan yang paling keji berdasarkan hadits yang tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau mengatakan:

“Terlaknat orang yang mendatangi istri pada duburnya.” [1]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat laki-laki yang mendatangi laki-laki yang lain (melakukan homoseksual) atau (seorang laki-laki) yang mendatangi istri pada duburnya.” [2]

Yang wajib bagi orang yang melakukan hal itu adalah segera bertaubat dengan taubat nasuha, yaitu melepaskan diri dari dosa tersebut dan meninggalkannya dengan penuh pengagungan kepada Allah dan takut siksaannya, menyesal atas keterjerumusannya dalam maksiat tersebut, dan berkeinginan kuat serta jujur untuk tidak mengulanginya disertai dengan kesungguhan beramal shalih. Barangsiapa yang bertaubat dengan taubat yang jujur, niscaya Allah akan memberikan taubat kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaahaa: 82)

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqon: 68-70)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Islam itu menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu dan taubat menghancurkan dosa-dosa yang telah lalu.” [3]

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali. Tidak ada kafarah bagi orang yang menggauli istri pada duburnya menurut pendapat ulama yang paling shahih. Dan tidak diharamkan si istri baginya dengan perbuatan tersebut, bahkan dia tetap di bawah perlindungannya, namun tidak ada kewajiban baginya untuk menaati suaminya dalam kemungkaran yang besar ini, bahkan wajib baginya menolak dari perbuatan tersebut dan menuntut agar nikahnya dibatalkan, apabila suaminya tidak bertaubat. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari hal tersebut. [Fatawa Islamiyyah]

Sumber: Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai karya Abu ‘Abdirrahman Sayyid bin ‘Abdirrahman Ash-Shubaihi (penerjemah: Abu Hudzaifah), penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’ hal. 465-173.

____________________
[1] HR. Abu Dawud (1847) dan Ahmad dalam Al-Musnad (9356).

[2] HR. Ibnu Majah (1913)

[3] HR. Muslim (173)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: